Dunia Pada Tahun 2100
Bagaimana situasi dunia ketika mencapai tahun 2100? Salah satu
ramalan terkini yang dirilis oleh Business Insider mengungkapkan
kondisinya akan jauh lebih masif dari saat ini. Berbagai persoalan mulai
dari jumlah penduduk, kekurangan bahan bakar dan bahan pangan melanda
dunia. Ramalan yang pesimistis? Tidak juga. Berikut beberapa ramalan
tersebut:
- Batas rerata umur manusia di dunia
sekarang sekitar 68 tahun. Pada 2100, batasan umur itu akan bertambah
menjadi 81 tahun. Ini berarti makin banyak orang berumur uzur. Laporan
PBB tidak menyebutkan secara rincin bagaimana manusia 2100 bisa
mempertahankan hidupnyaa, apakan melalui rekayasa genetik, pengobatan
nano, maupun peningkatan kecerdasar secara eksponensial. Begitupun
laporan itu tidak menyantumkan risiko-risiko kependudukan seperti
pandemik penyakit atau malah serbuan alien.
- Rawan pangan. Sebenarnya
kondisi dunia sekarang sudah rawan pangan. Para pakar menyalahkannya
pada pemanasan global. Sekarang ada sekitar 925 juta jiwa yang menderita
kelaparan. Peningkatan jumlah penduduk, logikanya, akan menambah jumlah
penduduk yang kelaparan. Di sisi lain, makin panasnya suhu bumi bisa
membuat masa tanam makin pendek di daerah tropis dan sub tropis. Ini
membuat risiko gagal panen makin kencang, apalagi menyangkut padi dan
jagung. Diprediksi akan ada penyusutan 20-40 persen dari panen padi dan
jagung itu. Artinya, ratusan juta penduduk dunia harus mulai
mendiversifikasi pangan mereka. Tak lagin mengandalkan pangan
tradisional.
- Terumbu karang dan ekosistemnya
bakal rusak. Dengan level karbon dioksida yang tinggi di 2100, sekitar
560 parts per juta, ini akan menjadi bencana bagi terumbu karang.
Diperkirakan sebanyak 9.000 habitat terumbu karang punah. Terumbu
karang bukanlah sekadar penghias laut. Ia menjadi penyokong penting
kehidupan laut, karena menjadi rumah bagi ribuan ikan dan memasok
makanan. Dunia pada 2100 akan menjadi pertaruhan adaptasi terumbu
karang.
- Bahan bakar minyak, gas, dan batu bara diprediksi
bakal hilang. Gara-gara kerakusan manusia mengkonsumsi bahan bakar
tersebut saat ini. Beberapa pakar sudah memperhitungkan, BBM akan
menghilang mulai 2040. Sementara BBG, jumlah produksinya secara cepat
akan berkurang. Manusia, pada 2100 memanfaatkan tenaga air dan tenaga yang diperbarukan seperti angin dan matahari. Tiga tenaga ini bakal jadi penopang utama energi dunia.
- Mobilitas penduduk
akan semakin tinggi. Di sejumlah negara yang homogen sekarang, seperti
Cina dan Jepang, kondisinya akan berubah pada 2100. Globalisasi berarti
makin banyak dan cepat perpindahan penduduk termasuk skill kerja mereka
ke luar negeri. Kita akan melihat banyak bule asal AS yang mencari
nafkah di Asia, dan Eropa akan menjadi melting pot penduduk yang lebih
masif lagi dari sekarang.
- Sinyal berbahaya bagi ledakan
penduduk. Laporan PBB memprediksi jumlah penduduk dunia mencapai 10
miliar jiwa pada 2100. Laporan ini punya dua alternatif skenario, akan
ada maksimal sebanyak 15,8 miliar penduduk dunia atau
hanya akan ada 6,2 miliar penduduk. Angka yang terakhir, menjadi pilihan
paling memungkinkan. Sementara angka yang pertama adalah tanda bahaya
bagi planet bumi. Negara-negara butuh pengaturan ledakan penduduk yang
komprehensif dan drastis bila ingin selamat. Penduduk 10 miliar jiwa,
itu berarti bahaya besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar